Friday, August 30, 2013

Sepi

Orang menghindari kesendirian
Sedari kecil, kita diajari sebagai makhluk sosial
Tanpa sadar, kita percaya kita butuh orang lain
Pendek kata.. Kita tidak bisa sendirian

Anehnya, ketika dewasa, Mandiri datang
Mandiri perlihatkan kenyataan lain
Sendiri itu indah
Sendiri itu kebanggan
Sendiri itu bebas tangisan
Sendiri itu.. tidak buat kecewa

Malam ini, pikiranku bernyanyi
Lalu tak lama jemariku menari

Malam ini, di kala biasanya semua orang berkumpul mencari orang lainnya
aku sendiri

Memilih sepi, sebatang kara, di ujung sebuah tempat orang berjumpa canda
Kecewa? Ya
Aku kira aku juga makhluk sosial
Butuh orang lain
Takut Sendirian

Tapi.. Anehnya.. aku tersenyum
Aku menikmati kesendirian ini
Akhirnya, aku bisa tenang
bebas..
Pekerjaaan, Keluarga, Pasangan, Teman..
Semua tidak ada disini..
Dan aku.. senang 

Apa aku harus ulangi lagi dan jadikannya perilaku sehari-hari?
Yah.. siapa tahu membuat pribadiku lebih mandiri..

Di ujung akhir dari jam kesendirianku ini
Akan kuhirup udara kebebasan dan kebahagiaan ini sedalam-dalamnya
Satu pesan moral yang bisa kubawa sampai mati
Sendiri bukan hal yang harus ditakuti
Bersama orang lain bukan jaminan bisa bahagiakan hati

Sendiri.. Mandiri..

-Tarian Jemari Malam Hari

Tuesday, August 27, 2013

Aku baik-baik saja
Lalu loncat dari gedung tinggi

Aku baik-baik saja
Lalu memotong urat nadi

Aku baik-baik saja
Lalu menenggak racun dan mati

Kita baik-baik saja
Lalu melayangkan surat perceraian

Kita baik-baik saja
Ternyata masing-masing punya simpanan

Semua akan baik-baik saja
Tapi lantas akhirnya menghina Tuhan

Semua akan baik-baik saja
Tapi yang satu meninggalkan yang lain pada akhirnya

Jadi apa arti 'baik-baik saja'?
Sebuah sarkas nilai hidup jenis baru?
Atau kebohongan di antara manusia modern?

Baik-baik saja..  Hanya bentuk perlawanan menutupi kebobrokan dan kelemahan!
Pada akhirnya, kita hanya bisa mengacuhkan
Kenapa? Karena semua terlihat baik-baik saja

- Tarian Jemari Tengah Hari

Thursday, August 15, 2013

Teman

Awal terjadinya karena kita makhluk primata
Mati jika hidup sebatang kara
Makanya, lahirlah teman
Sosok yang juga hidup untuk saling kerjasama

Tapi ternyata teman ada jenisnya
Faktanya, untuk punya teman, kita harus bayar harga

Ada yang berteman karena sama nasib
Ketika nasib berubah, teman entah kemana

Ada yang berteman karena ada kebutuhan
Setelah kebutuhan terpenuhi, teman hilang ditelan bumi

Ada teman yang sehari-harinya memberi ciuman
Namun saat berpaling, teman meludahi.

Jadi, siapa teman?
Seorang musuh dalam penyamaran?

Apa ikatannya hanya seperti hubungan badan?
Sementara, sesaat..
Hanya ego, hanya nafsu..

Uji lagi, pikir lagi
Aku seorang teman
yang tak butuh teman yang tindaknya tak berteman
yang tak perlu diragukan meski sudah berubah zaman
Dimanakah teman yang setia kawan? Pergi dan temukan!

-tarian jemari malam hari

Thursday, August 1, 2013

Apa artinya bila seseorang tidak lagi merasa pilu ketika hendak ditinggal dengan seorang lainnya?
Pengaruh usia?
Perubahan perilaku manusia?
Tingkat kepintarankah?
atau, hanya karena perasaannya saja?
Bencikah?
atau malah sebaliknya, terlalu mencintai sehingga rela untuk melepas pergi?

Aneh. 9 bulan menyatu secara jiwani adalah waktu yang lama. cukup lama untuk tak terpisahkan.
tidak sebentar untuk saling mengerti.
nyatanya, 22 tahun ikatan hanya sebatas tulisan di kertas permasyarakatan. Selebihnya?
Lebih mirip musuh bebuyutan!
Tidak saling meracuni sih, hanya saling membunuh lewat kata demi kata, sampai akhirnya hanya badani yang sehat, tapi jiwa raga busuk!

Semoga, hanya berharap.
Kepergian ke tanah yang dibilang orang suci bisa mengubah segala sesuatu.
Yah, setidaknya

-Tarian jemari pagi hari.

Wednesday, June 26, 2013

mungkin seperti benang kusut, semerawut.
tidak tahu dimana titik awalnya, tidak mengerti bagaimana mengakhirinya.

salah, hanya itu yang bisa diungkapkan.
benar, siapa yang benar? semuanya tetap terasa janggal, sekalipun berlaku normal.

jadi apalagi gunanya?
rasa-rasanya ingin pergi melarikan diri, tidak lagi mengakui adanya hubungan jiwani..
tapi apa daya, kita hanya manusia yg terbelenggu norma.
mungkin benar seperti kata orang, surga memang di telapak kakinya..
entah bagaimana, apakah harus disembah atau rela diinjaknya?
sedikit berteriak, seketika dibilang durhaka, tetapi dalam hati selalu bertanya "apa masalahnya?"

tetap seperti benang kusut, semerawut.
tak bisa kembali ke titik awalnya, tak bisa pergi untuk mengakhirinya

tarian jemari malam hari

Thursday, May 16, 2013

How i met my (other) parent

Orangtua adalah ayah dan/atau ibu seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Umumnya, orangtua memiliki peranan yang sangat penting dalam membesarkan anak, dan panggilan ibu/ayah dapat diberikan untuk perempuan/pria yang bukan orangtua kandung (biologis) dari seseorang yang mengisi peranan ini.


Setuju! Itulah kata yang terbesit ketika melihat jabaran arti kata orang tua dari website "serba tahu" di atas. Kenapa setuju? Let me tell the reason.

Berawal dari pagi ini, waktu dalam perjalanan menuju ke kantor, gue memutuskan naik ojek supaya bisa datang lebih awal dan juga tidak terjebak macet. Supir ojek yang mengantar gue hari ini adalah Pak Kuman ( don't be misunderstood, he's gladly a normal old man with brown skin, medium tall and moustache under his nose. so imagining a bacteria riding a motorcycle is definitely wrong :p).

Pak Kuman sudah jadi supir ojek bertahun-tahun lamanya, hampir 16 tahun lebih. Sejak pindah pertama kali ke rumah yang sekarang, beliau udah jadi ojek langganan gue. He used to drive and pick me since i was in elementary school buat les musik. Anyway, yang mau gue ceritain adalah, ternyata Pak Kuman itu ga cuma anter gue aja, dia juga jadi ojek langganan penghuni komplek lain, kebanyakan mengantar anak-anak seumuran gue juga untuk ke sekolah atau ngeles. Gue ga tau kenapa, tapi mungkin sikap ke-bapak-an dan reliable yang dia punya yang membuat Pak Kuman jadi ojek yang laris dan terpercaya di kalangan komplek gue. Maybe it's not a new story, somehow there must be others like Pak Kuman on the other side of the world, jadi apa sih istimewanya dari pekerjaan Pak Kuman ini?

He was not just an ojek driver, He was being a parent too


Hal ini gue sadari pagi tadi, ketika Pak Kuman menerima telepon dari langgannya yang lain. Katanya si langganannya itu mau berangkat kantor, dan nungguin Pak Kuman yang kala itu juga lagi mengantar gue ke kantor. Beliau cerita, langganannya itu juga seumur gue, lama berlangganannyapun sama kayak gue, dari kecil. Lalu tiba-tiba gue ingat bagaimana reaksi Pak Kuman selama ini, ekspresi beliau ketika mengantar gue ke kampus untuk pertama kalinya gue kuliah. Yang lebih mengharukan lagi waktu beliau pertama kali mengantar gue sebagai seorang pekerja, dengan tersenyum di depan kantor beliau berkata, "Oh.. ini yah kantor kamu?", sambil dia bertanya gue kerja sebagai apa dan di bidang apa. 

Keberhasilan seseorang dipengaruhi oleh banyak hal. In my case, i am sure that Pak Kuman has his role in it. Nevertheless he's just an ojek driver, tapi jasanyalah yang mengantarkan gue ke 'tujuan'. Semua orang di sekitar kita bisa berperan sebagai orang tua, disadari atau tidak. Pak Kuman buktinya.

Catatan nona, ditulis kala terik siang hari dalam sebuah ruangan yang sepi, mengkisahkan seorang pria tua lewat tarian jemari.

Thursday, April 18, 2013

Catatan Kala Hujan


Ditulis di kala hujan.
Ketika tidak ada hal lain yang bisa dilakukan.

Telinga terlalu kenyang mendengarkan ribuan daftar lagu.
Kaki berteriak kesakitan setelah dibuat bergerak, demi membuat bentuk tubuh yang lebih layak.
Akhirnya, hanya jemari yang mulai menari.

Ditulis di kala hujan.
Ketika tidak ada hal lain yang bisa dilakukan.

Sepasang mata hanya terus melihat, mencuri pandang bila sempat.
Hati hanya terus bertanya.. gelisah.. seharian mendorong kepala yang harusnya berisi logika untuk berani mendiamkan teriakan si kaki dan mulai menyuruhnya untuk bergerak.
Tetapi, akhirnya.. hanya jemari yang masih menari.

Ditulis di kala hujan.
Ketika tidak ada hal lain yang bisa dilakukan.

Bibir terus mengatup, hanya melayangkan senyum kala disapa. Setidaknya senyum termanis.
Kepala? Dia hanya mendiamkan si hati yang terus mengeluh, "Ayo kepala, pikirkan sesuatu! Jangan diam!".
Sementara, Jemari terus menari.

Ditulis di kala hujan.
Ketika tidak ada hal lain yang bisa dilakukan.

Memang tidak akan pernah ada yang bisa aku lakukan.
Dia tidak mungkin kudekati, lalu kusentuh, apalagi kukecup.
Hanya bisa dipandangi, dikagumi, dicintai?

Akhirnya, kucintai dirinya lewat jemari yang merangkai deretan kata di sore hari..

Ditulis di kala hujan.
Ketika tidak ada hal lain yang bisa dilakukan.

Hanya memberikan hati untuk seorang pria yang tidak bisa dimiliki.. Lewat tarian jemari.